<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jerry Aurum &#124; a creative view that makes a change &#187; Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.jerryaurum.com/blog/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jerryaurum.com/blog</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Jul 2010 15:08:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cerita Sukses di Portal Indonesia Kreatif</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/cerita-sukses-di-portal-indonesia-kreatif/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/cerita-sukses-di-portal-indonesia-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 06:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Creative Industry]]></category>
		<category><![CDATA[Departemen Perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Industry Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[
Artikel ini diambil dari portal Indonesia Kreatif: http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/jerry-aurum
“Banyak orang merasa modal keyakinan dan  percaya diri untuk menekuni sesuatu yang diminati belum cukup karena  masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Namun Jerry Aurum (34),  fotografer profesional, pemilik “Jerry Aurum Design dan  Photography” percaya bahwa keyakinan dan percaya diri lebih dari cukup  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Artikel ini diambil dari portal Indonesia Kreatif: <a href="http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/jerry-aurum" target="_blank">http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/jerry-aurum</a></p>
<p><em>“Banyak orang merasa modal keyakinan dan  percaya diri untuk menekuni sesuatu yang diminati belum cukup karena  masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Namun Jerry Aurum (34),  fotografer profesional, pemilik </em>“<em>Jerry Aurum Design dan  Photography” percaya bahwa keyakinan dan percaya diri lebih dari cukup  untuk mewujudkan hasrat dan keinginan dalam bidang fotografi dan desain.  Tak mau terjebak dengan khas tertentu dalam karyanya, maka proses  kreatif dan eksplorasi ide tak henti-henti dilakukan dalam kehidupannya  sehari-hari. Mottonya adalah &#8220;stay foolish and hunger&#8221;, yaitu penting  untuk memelihara rasa kurang tahu agar keinginan untuk belajar dan  belajar lagi selalu ada.”<span id="more-1054"></span></em></p>
<p><em><img src="http://www.indonesiakreatif.net/upload/Image/Cerita%20Sukses/Jerry%20Aurum/jerry1.jpg" alt="" width="500" height="333" /></em></p>
<p><em> </em><strong>Keluarga Tanpa Darah Seni</strong></p>
<p><strong> </strong>Masa kecil hingga SMA dihabiskannya di kota Medan,  Sumatera Utara. Saat umur 5 tahun rupanya ia menyenangi dan sudah bisa  mengoperasikan kamera milik Sang Ibunda. Kemudian saat duduk di bangku  sekolah dasar hobinya bertambah, yaitu menonton film, baik film lokal  maupun asing dari berbagai <em>genre</em>. Tamat SD sekitar 1000 film  telah ditonton, lengkap dengan catatan untuk setiap film. Dan tanpa  disadari proses kreatif pun mulai terbentuk.</p>
<p>Lahir dari keluarga tanpa darah seni bagi Jerry tidak berpengaruh  terhadap bidang yang ditekuninya sekarang. Keberagaman profesi dan minat  dalam keluarga menunjukkan betapa tingginya nilai demokrasi yang  dianut, tanpa menghilangkan rasa saling hormat menghormati antara anak  dan orang tua. Seluruh anggota keluarga bebas—dan memang dididik—untuk  mengemukakan pendapat akan sesuatu, dimana pendapat itu selalu didengar.  Begitu juga dengan masalah minat dan bidang yang ingin ditekuni dalam  hidup, tak ada kekangan melainkan dukungan yang diberikan. Selain itu  pendidikan akan pentingnya kemandirian selalu ditanamkan sejak kecil.  Uang saku yang terbatas dan sekedar cukup membentuk pola pikir untuk  selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang diinginkan.</p>
<p><strong>Modal Keyakinan dan Percaya Diri</strong></p>
<p>Cita-cita dan bidang yang ingin ditekuni belum ditemukan juga sampai  kelas 2 SMA hingga ia melakukan konsultasi dengan psikolog. Hasil  psikotes hanya menambah kebingungan karena nilainya merata di semua  bidang dan tidak ada yang menonjol. Lalu otak pun bekerja memikirkan  padu padan dari bidang-bidang yang bisa menjadikannya ‘jagoan’.  Pilihanpun dijatuhkan kepada desain.</p>
<p><strong><em>“Menurut saya desain adalah </em></strong><strong>applied  art<em> yang merupakan pertemuan atau konvergensi dari tiga himpunan : </em>science<em>, </em>technology<em> dan </em>art<em>. Semua bidang  ilmu dari mulai matematika sampai psikologi ke masyarakat bisa dipakai  dan diaplikasikan melalui desain.”</em></strong></p>
<p>Maka selepas SMA pendidikan dilanjutkan di Institut Teknologi  Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, jurusan Desain Komunikasi  Visual. Disana ia mulai tergabung dalam semacam perhimpunan fotografer  amatir dimana kemampuan fotografinya terus terasah dan juga mulai  percaya diri mengikuti berbagai lomba. Dari sekian banyak penghargaan  yang didapatkan dari lomba foto, yang paling berkesan justru didapatkan  dari lomba foto lokal se-Bandung untuk kategori fesyen/model. Saat itu  untuk pertama kalinya penghargaan diraih (juara 2) dan pialanya masih  disimpan hingga saat ini. Lalu sedikit demi sedikit uang hasil berbagai  lomba mulai dikumpulkan dan digunakan untuk meng-<em>upgrade </em>kameranya.</p>
<p>Lulus dari ITB dengan predikat Cum Laude, ia menganggur selama 3  bulan di Bandung untuk kemudian pindah ke Jakarta. Sempat bekerja pada  biro desain grafis selama kurang lebih 3 bulan pada dua perusahaan  membuatnya tidak merasa nyaman dan akhirnya membuka sendiri usahanya “<em>Jerry  Aurum Design and Photography</em>”. Menurutnya perasaan <em>freedom of  choice </em>dalam bekerja sangatlah penting. Bebas menentukan apa yang  dimau dan bersedia menanggung resiko atas pilihan sendiri. Dan  kemerdekaan itu tidak bisa didapatkan selama bekerja dengan/untuk orang  lain.</p>
<p><em>S</em><em>elf promotion</em> dilakukan dengan membagikan kalender  berwujud <em>floppy disk</em> ke berbagai perusahaan di Jakarta,   sebagian besar bermodalkan keyakinan dan percaya diri. Keyakinannya  tidak sia-sia, klien pertama yang tertarik dengan karyanya adalah salah  satu perusahaan minyak besar, ConocoPhillips. Percaya diri juga dengan  harga yang ditawarkan, <em>down payment </em>yang diterima langsung  dibelikan kamera profesional pertama. Meskipun menghadapi beberapa  hambatan, keyakinan dan percaya diri tetap kuat dipegang. <em>Nothing to  lose</em>, tanpa beban, begitu prinsipnya. Ia lebih suka menjalaninya  dengan spontan, tanpa banyak berpikir karena jika terlalu banyak  berpikir, biasanya akan sulit bertindak. Jalani saja, dengan adanya  kesalahan justru akan bisa banyak belajar dan pada akhirnya lebih maju  dari orang yang lebih banyak<em> mikir.</em></p>
<p><strong>Jangan Terjebak Identitas</strong></p>
<p><strong> </strong>Dalam menghasilkan sebuah karya, Ia tidak pernah  berusaha meninggalkan sebuah ciri khas atau identitas<em> </em>tertentu.  Identitas dalam industri kreatif sebaiknya murni terbentuk karena  proses yang sangat matang. Jangan sampai terjebak dalam identitas karena  dapat menimbulkan <em>recognition </em>akan hasil karya dan bisa  menghasilkan kenyamanan di diri. Bahkan dapat mengecilkan keinginan  untuk belajar dan mengeksplor lebih jauh lagi. Sampai sekarang ia memang  tidak pernah mementingkan identitas dan juga tidak pernah  mengkotak-kotakkan dirinya. Dibiarkannya pendapat orang yang  menganggapnya sebagai fotografer, <em>graphic designer</em>, atau  penulis. Sesuai dengan kata-kata dari dosennya yang selalu diingat.</p>
<p><img src="http://www.indonesiakreatif.net/upload/Image/Cerita%20Sukses/Jerry%20Aurum/jerry2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p><strong><em>“Identitas jangan dijadikan seperti </em>make-up<em> atau rias wajah untuk menutupi jati diri tapi dia harus menjadi jati  dirinya sendiri. Dan itu butuh waktu dan proses. Jadi jangan dicari, dia  akan datang dengan sendirinya”</em></strong></p>
<p>Jerry bersedia membagi proses kreatif yang didapatkannya secara alami  tanpa berusaha mencari metode tertentu. Yaitu memelihara ketertarikan  terhadap proses kreatif dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang  menarik. Proses eksplorasi harus dipandang lebih penting daripada proses  eksekusi ide dimana hal itu bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,  tanpa menganggap hal itu sebagai suatu pekerjaan rutin. Apabila hal  tersebut bisa dilakukan, maka perhatian akan proses kreasi akan semakin  bertambah. Memicu untuk terus menerus berpikir. Sehingga ketika  diperlukan ide ini akan muncul sendiri karena terpetakan dan tersimpan  dalam otak. Selain itu dalam melakukan proses kreasi sebaiknya jangan  mempunyai metode tetap karena kalau sudah menemukan satu metode maka  akan terjebak dalam pola tersebut.</p>
<p>Di dunia fotografi, ia tidak pernah bosan karena selalu ada proses  yang berbeda untuk menghasilkan suatu karya. Proses itu terdiri dari  mencari orang, membuat properti, bertemu dengan orang dan model yang  berbeda, memikirkan konsep yang berbeda—terkadang bisa memakan waktu  sampai satu tahun—dan hasilnya bisa langsung dilihat seketika itu juga  dalam beberapa kali jepretan. Konsep ini sangat disukai olehnya, berbeda  dengan melukis dan mendesain.</p>
<p>Tetapi harus diakui juga bahwa dalam proses kreatif memang ada banyak  hal yang mempengaruhi. Sebagai seorang seniman ia mengakui banyak  mengalami naik turun. Jalan yang ditempuh seorang fotografer menurutnya  adalah <em>a lonely path</em>. Beberapa hambatan juga dialami seperti  masalah keuangan, kerjasama tim yang gagal, klien yang tidak puas karena  hasil yang biasa saja, dan banyak lagi. Hambatan tersebut disiasatinya  dengan tidak menganggap semuanya terlalu serius. Selain itu mottonya  adalah <em>to stay foolish and hunger</em>. Penting untuk selalu merasa  kurang tahu agar kembali ingin belajar dan belajar lagi.</p>
<p>Hingga sampai saat ini berbagai proyek sudah ditangani dan sebagian  besar menghasilkan kepuasan untuk kliennya dan berbagai penghargaan  untuk dirinya. Mulai dari <em>commercial</em>, <em>model and fashion,</em> <em>wedding, desain graphic, exhibition, </em>dll. Selain itu proyek  untuk membukukan karyanya juga terus berjalan antara lain <em>Femalogrophy</em> yang rencananya akan dibikin trilogi, juga <em>In My Room</em> yang  terasa begitu personal ketika melihat foto-foto di dalamnya.</p>
<p><strong>Pesan Kreatif untuk Indonesia</strong></p>
<p>Mengenai kondisi fotografi di Indonesia saat ini, ia banyak melihat  perubahan. <em>Trend</em> fotografi yang berimbas menjamurnya anak muda  menenteng kamera kemanapun tidak dilihatnya sebagai suatu masalah.  Pertama memang kuantitas harus ditingkatkan, baru bicara tentang  kualitas. Kualitas fotografi di Indonesia masih buruk, hal ini  dipengaruhi kultur kerja dimana totalitas dalam mengerjakan sesuatu  bukan sesuatu yang membumi disini. Selain itu juga orang Indonesia masih  kurang suka membaca, mendengar, atau  <em>browsing</em> internet  sehingga miskin referensi. Selama referensi dan wawasan kurang, maka  kualitas akan terhambat.</p>
<p>Karya mengenai kebudayaan Indonesia sudah sering dibuat hingga  membuatnya cukup bingung. Karena semakin dieksplorasi, semakin disadari  bahwa simbolisasi kebudayaan Indonesia sudah usang, bolak-balik itu-itu  saja, membosankan. Sehingga minat untuk menekuni hal itu juga tidak  konsisten. Dan ia juga tidak berusaha untuk memelihara perhatian  terhadap eksplorasi kebudayaan Indonesia.</p>
<p><img src="http://www.indonesiakreatif.net/upload/Image/Cerita%20Sukses/Jerry%20Aurum/jerry4.jpg" alt="" width="500" height="333" /></p>
<p>Beruntunglah para pelaku kreatif karena selalu bisa punya cara untuk  bisa menghasilkan pendapatan. Industri kreatif adalah industri yang  bebas dimana banyak sistem yang bisa dipilih. Tetapi jangan sekalipun  melakukan korupsi. Karena terlalu banyak pelaku bisnis yang terjebak  dalam permainan korupsi. Godaannya sangat besar dan cenderung lebih  mudah untuk ikut bermain daripada tidak. Sekali ikut dalam permainan,  maka hanya itu satu-satunya cara yang diketahui untuk dapat bertahan  hidup.</p>
<p>Harapan untuk website indonesiakreatif.net sederhana saja, ia ingin  agar website ini bisa bertahan lama, jangan hanya semangat membuatnya  saja tapi pemeliharannya kurang. Pesan pun dilontarkan terhadap  pemerintah untuk industri kreatif khususnya dalam bidang fotografi.</p>
<p><strong> <em>“Sediakan anggarannya, jangan disunat. Apa yang mestinya  diberikan, berikanlah dengan tulus. Ribuan proposal dari pelaku kreatif  dalam bidang fotografi menunggu untuk diberikan dukungan”</em></strong></p>
<p>Mengenai kesuksesan, menurutnya hal itu tidak bisa diukur, <em>impossible</em>.  Kesuksesan tidak pernah dipandangnya dalam skala besar dan dalam jangka  waktu panjang, melainkan hanya untuk hari itu saja. Selama masih bisa  membuat suatu perubahan yang nyata dan masih bisa menginisiasi perubahan  untuk diri sendiri dan lingkungan terdekat atau bahkan masyarakat luas,  hari itu adalah hari yang sukses untuknya. Seperti prinsipnya yang  lain, bahwa everyday is CSR (<em>corporate social responsibility</em>),  ia tidak ingin melabeli apa yang dilakukannya setiap hari. Kontribusi  terhadap dunia kreatif diusahakan disetiap hari, dalam berbagai macam  bentuk.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/cerita-sukses-di-portal-indonesia-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>To Love Me, Please Understand My Photo Gear</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/to-love-me-please-understand-my-photo-gear/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/to-love-me-please-understand-my-photo-gear/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 04:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Amateur Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Photo Gear]]></category>
		<category><![CDATA[Professional Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[Saya lagi asyik muter-muter di Facebook ketika chat window saya loncat muncul. Seorang penggemar foto dari Semarang bertanya, &#8220;Kenapa sih kita selalu dinilai dari kamera kita?&#8221; Saya bilang, &#8220;Oya? Masak sih? Salah bergaul kali.&#8221; Iya, mungkin aja hobinya teman satu ini nongkrong di toko kamera, so pastilah orang-orang lebih suka nanyain soal kameranya. Atau, mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_967" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-967" title="Alkmaar_2" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/03/Alkmaar_2.jpg" alt="Beach in Alkmaar, 1998" width="400" height="267" /><p class="wp-caption-text">Beach in Alkmaar, 1998</p></div>
<p>Saya lagi asyik muter-muter di Facebook ketika chat window saya loncat muncul. Seorang penggemar foto dari Semarang bertanya, &#8220;Kenapa sih kita selalu dinilai dari kamera kita?&#8221; Saya bilang, &#8220;Oya? Masak sih? Salah bergaul kali.&#8221; Iya, mungkin aja hobinya teman satu ini nongkrong di toko kamera, so pastilah orang-orang lebih suka nanyain soal kameranya. Atau, mungkin juga kalo hunting foto tas kameranya gede banget, jadilah suka ditanya-tanyain. Atau, jangan-jangan kameranya invisible, jadilah ditanyain juga, kameranya apa, wong temen-temennya pada bawa kamera dia bawanya Blackberry.<span id="more-965"></span></p>
<p>Anyway, tetap saja memang itu jadi pertanyaan kuno. Kameranya apa? Banyak yang beranggapan, kamera menentukan reputasi. Saya sih setuju-setuju saja. Paling enggak, reputasi pembelianlah. Dan memang mungkin sejuta rasanya kalau lagi menenteng Nikon D3 atau Canon 1Ds mk3 dengan lensa 80 mm f/1.8 L series. Atau dengan cool-nya membidik model dibalik Hasselblad H3 seharga Nissan Teana. Berhak koq, karena memang itu prestasi. Bisa jadi si pemakai adalah orang yang sukses memimpin perusahaan batubaranya sehingga enggak ngedip waktu memborong setengah isi toko JPC Kemang, ataupun sukses merayu dan meyakinkan bapaknya bahwa kamera semi-profesional enggak cukup bagus untuk mulai belajar bagaimana caranya memfokus. Sah dan meyakinkan sebagai sebuah prestasi.</p>
<p>Saya ingat hari-hari dimana saya diam-diam tetap memendam rasa iri pada kamera-kamera idaman sewaktu saya masih di jalur amatir. Wajarlah, boys with toys, rumput tetangga selalu lebih hijau. Saya juga sering menanyakan mereka memakai kamera apa, karena 99,9% pasti lebih bagus dari kamera pas-pasan saya. Senang aja, karena yang ditanya pasti semangat 45 menerangkan A-Z fitur kameranya, dan dengan senang hati membiarkan saya menimang-nimang sambil menempelkan muka berminyak saya disitu, jepret sana jepret sini (sering dilap kembali oleh yang punya dengan bajunya). Sejujurnya, banyak untungnya berteman dengan sosok beginian. Kesenangan mereka akan kamera akan terus menerus membuat mereka up-to-date dengan photo gear terbaru. Yang lama dikemanain dong? Dijuallah kepada orang-orang seperti saya, yang selalu merindukan kamera bekas kondisi 99% harga miring. Seneng deh temenan (foto diatas, Beach in Alkmaar, saya foto tahun 1998 di Belanda, dengan Nikon F90x bekas, kondisi 99% harga miring, dibeli dari teman saya yang baik hati).</p>
<p>Hingga sekarang, photo gear saya selalu dibawah ekspektasi (bukan ekspektasi saya, tapi ekspektasi klien yang hobi koleksi kamera). Lighting set saya sudah berumur 9 tahun, Hensel, dan masih setia menemani. Kamera saya Canon 5D mk2, yang banyak dipakai para amatir. Kalau tas kamera saya memang punya banyak, karena enggak semahal beli kamera. Untungnya, entah kenapa, makin hari makin jarang ada yang menanyakan saya pakai kamera apa (karena jawabannya tidak akan nendang anyway). Nah, tapi itu dia, kenapa semakin tidak ditanyakan?</p>
<p>Perhatikan tidak, banyak yang kameranya bagus, fotonya jelek-jelek. Disisi lain, banyak yang fotonya bagus-bagus, kameranya juga bagus. Lha? Tentu saja. Karena orang-orang yang sudah jago motret, biasanya memang sudah memutuskan untuk serius. Keseriusan mengarah pada totalitas. Semakin jago jadi semakin serius jadi semakin total. Semakin upgraded-lah kameranya. Lagi-lagi, wajar.</p>
<p>Mungkin yang harus dipikir lagi, kenapa kita merasa risih pada saat ditanyakan soal kamera kita, yang kebetulan, memang cukup pas-pasan? Kalaulah ternyata kita adalah juara lomba Salonfoto 10 kali berturut-turut, dan kameranya pas-pasan, bukannya bangga ternyata selalu menang dengan menggunakan barang bapuk (cieee, ngerendahin diri, ninggiin mutu. Kamera jelek aja menang, apalagi kamera bagus). Mungkin masalahnya memang di pencapaian fotografinya kita sendiri. Kalaulah memang sudah nyaman dan percaya diri, mau ditanya soal kamera, sah-sah saja, karena mungkin tidak terlalu penting lagi. Jadi siapa yang sebenarnya perlu dihakimi soal nanya-nanya kamera ini, yang ditanya atau si penanya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/to-love-me-please-understand-my-photo-gear/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Plaza Indonesia Print Ad, 2010</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/plaza-indonesia-print-ad-2010/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/plaza-indonesia-print-ad-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 04:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[eX]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Matari]]></category>
		<category><![CDATA[Pizza Ibira]]></category>
		<category><![CDATA[Plaza Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sport]]></category>
		<category><![CDATA[The Last Supper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[
The idea was simple: to advertise food and sport goods festival.
We decided to shoot at one of the Plaza Indonesia good restaurants, Pizza E birra. I loved the floor and the giant door (don&#8217;t try to open it, it&#8217;s fake). Since it&#8217;s a fully operating restaurant, we had to start early in the morning and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-962" title="PI_104" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/03/PI_104.jpg" alt="PI_104" width="474" height="380" /></p>
<p>The idea was simple: to advertise food and sport goods festival.<span id="more-961"></span></p>
<p>We decided to shoot at one of the Plaza Indonesia good restaurants, Pizza E birra. I loved the floor and the giant door (don&#8217;t try to open it, it&#8217;s fake). Since it&#8217;s a fully operating restaurant, we had to start early in the morning and finish it before 11 am. Not a problem, that was just a perfect timing to get my lunch anyway.</p>
<p>I decided to give paradoxical treatment: sporty outfit with couture hair plus over-the-top make up. Bright colorful models against darkie background. Plus, saturated tonality. I like paradox. It puts us in the middle of a battle of ideas, it triggers our sense of judgement. But I don&#8217;t like to overdo it, as most of our sinetrons (read: crappy Indonesian tv movies).</p>
<p>I&#8217;d like to give a special note about the client, Plaza Indonesia and the ad agency, Matari. They have given me the most important thing that I always need: freedom. They trusted my treatment and decisions. The listened. I truly appreciate it. For my fellow photographers, don&#8217;t whine for it. Freedom can never be easily given to us. We just have to damn earn it. You know what I always do whenever I don&#8217;t get it? I ask for it with a big smile <img src='http://www.jerryaurum.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/plaza-indonesia-print-ad-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wonder Eyes, by Hikaru Nagatake &amp; WWF Indonesia</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/wondereyes/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/wondereyes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 12:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Children]]></category>
		<category><![CDATA[Davina]]></category>
		<category><![CDATA[Green Radio]]></category>
		<category><![CDATA[Hikaru Nagatake]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Nature]]></category>
		<category><![CDATA[Nugie]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Menteng]]></category>
		<category><![CDATA[Wonder Eyes]]></category>
		<category><![CDATA[WWF]]></category>
		<category><![CDATA[WWF Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[Wondering Eyes, Wonderful Eyes
By Jerry Aurum
Mata adalah jendela jiwa untuk mengintip dunia. Kita bisa melihat banyak, namun visual yang terekam tidaklah memberi makna apapun selama tidak terolah dalam akal pikiran, atau lebih dalam lagi, dalam perasaan kita. Seiring pertumbuhan kita menjadi manusia dewasa, pemaknaan kita terhadap kehidupan di sekitar kita semakin lama semakin mengkristal, semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_928" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-928" title="FanaGilangRamadhan" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/FanaGilangRamadhan.jpg" alt="Photo by Fana Gilang Ramadhan" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Photo by Fana Gilang Ramadhan</p></div>
<p><strong>Wondering Eyes, Wonderful Eyes</strong></p>
<p>By Jerry Aurum</p>
<p>Mata adalah jendela jiwa untuk mengintip dunia. Kita bisa melihat banyak, namun visual yang terekam tidaklah memberi makna apapun selama tidak terolah dalam akal pikiran, atau lebih dalam lagi, dalam perasaan kita. Seiring pertumbuhan kita menjadi manusia dewasa, pemaknaan kita terhadap kehidupan di sekitar kita semakin lama semakin mengkristal, semakin matang, dalam bahasa umumnya. Kematangan ini menjadi pola kita berpikir dan bertindak, terpengaruh dari pengalaman yang pernah kita alami tentunya.<span id="more-922"></span></p>
<p>Apakah ada yang salah dari wacana ini? Sulit disimpulkan, namun yang pasti, banyak yang kita lupakan akan sudut pandang kita terhadap berbagai hal sewaktu kita kecil. Apa yang menarik buat kita? Apa yang membangkitkan semangat? Menggugah keingintahuan? Membuat kita berkhayal? Membuat kita bercita-cita? Atau sekedar mengagumi keindahan yang kemudian jadi memori?</p>
<p>Bagaimana bila kita mendapatkan kesempatan untuk kembali meneropong sekitar kita dari kacamata kita sewaktu kita kecil, belasan atau puluhan tahun yang lalu? Dapatkah kita mengira-ngira, apa yang akan kita rekam (<em>start wondering</em>)? Akankah sekeliling kita seindah, atau seburuk yang kita pikir sekarang (<em>is it wonderful</em>)?</p>
<p>Agaknya ide inilah yang menjadi dasar pemikiran seorang Hikaru Nagatake, fotografer kawakan dari Jepang yang telah melanglang-buana dari pedalaman Amazon, Eropa hingga pelosok Asia. Sempat lama menjadi fotografer Magnum, tentu saja daya eksplorasi dan estetika Hikaru telah menempatkannya dalam jajaran fotografer internasional terpandang.</p>
<p>Hikaru muncul dengan ide Wonder Eyes hampir 10 tahun yang lalu. Ketika itu ia sedang meliput di kawasan konflik di Timor Timur. Hikaru melihat betapa anak-anak disana tetap saja menjadi anak-anak dengan segala sifat dasarnya, walaupun konflik mengerikan sedang terjadi disekelilingnya. Tertariklah Hikaru untuk melihat lebih jauh, melalui mata anak-anak itu.</p>
<div id="attachment_929" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-929" title="Prasetyo" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/Prasetyo-300x182.jpg" alt="Prasetyo" width="300" height="182" /><p class="wp-caption-text">Photo by Prasetyo</p></div>
<p>Dalam program Wonder Eyes, Hikaru mengunjungi desa-desa terpencil di dunia, termasuk di Bukit Barisan Selatan di Lampung dan desa Tessonilo di Riau. Ia membagikan puluhan kamera saku instan dan digital kepada anak-anak dan meminta mereka untuk memotret apa saja yang menarik untuk mereka. Sebagian harus memotret di tempat, sebagian boleh membawanya pulang ke rumah. Tidak hanya itu, mereka kemudian beramai-ramai mencetak hasil fotonya, menyaksikan keajaiban printer bekerja.</p>
<p>Apakah yang kita temui? Kejujuran, kepolosan, estetika, daya nalar dan semangat. Tanpa pengajaran, konten dan konteks visualisasi anak-anak ternyata tidak pernah gagal mengejutkan kita. Lihatlah foto seorang bapak memamerkan otot tubuhnya karya Nurul Zainuri. Cermati foto seorang anak kecil sedang melompat ke sungai, dengan momen jepret yang jitu. Atau foto seorang anak lainnya di tengah lokasi longsor, dengan komposisi asimetris. Foto makro embun menetes di dedaunan yang memerlukan ketajaman estetika, jepretan Fana Gilang Ramadhan.</p>
<p>Kita beralih ke foto seekor semut raksasa dekat sebilah kayu karya Danang. Penempatan kayu dan latar belakang kerikil memberi kita perbandingan besar objek, entah disadari oleh sang pemotret atau tidak. Bandingkan dengan foto seorang anak perempuan dalam seragam sekolah, a la portraiture, oleh Rosiana Desmayanti. Atau foto capung merah tua karya Lucky, sangat kontras di depan latar hijau.</p>
<div id="attachment_926" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-926" title="Danang" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/Danang-300x225.jpg" alt="Danang" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Photo by Danang</p></div>
<div id="attachment_927" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-927" title="Desmayanti" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/Desmayanti-300x225.jpg" alt="Desmayanti" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Photo by Desmayanti</p></div>
<p>Dilihat dari sisi teknis fotografinya, sudah layak kiranya kita berdecak kagum. Namun kekuatan sesungguhnya ada di dalam latar belakang pemotretannya. Mereka memilih dengan jujur apa yang hendak mereka foto, yang mewakili ketertarikan mereka akan hal itu. Tidak banyak, atau mungkin bahkan tidak ada, tujuan lain yang ingin mereka sampaikan. Tidak ada politik, tidak ada agenda.</p>
<p>Hikaru mengusung kekuatan besar dalam kesederhanaan idenya sebagai penggagas Wonder Eyes. Ia memperlihatkan kepada dunia, talenta terpendam dari orang-orang, atau anak-anak, yang luput terperhatikan. Ia mengingatkan kita, akan keindahan kehidupan alami yang mungkin tidak pernah kita rasakan, atau mungkin telah kita rusak. Ia membuat kita merenung, memberi kilas balik, merasakan kembali impian kita, dengan meminjam jasa anak-anak yang mungkin tidak pernah melihat kamera apapun dalam hidup mereka sebelumnya.</p>
<p>Start wondering, how wonderful life can be? You should.</p>
<p>Jakarta, Februari 2010</p>
<p><em>All images are properties of Wonder Eyes and Hikaru Nagatake. Please  use with permission.</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>You just read my curation on Wonder Eyes photo exhibition. It is exhibited in Jakarta in February 2010 (Taman Menteng and Japan Foundation) and continuing in Japan, also in this year.</p>
<p>Some images from the discussion session on Feb 12 at Taman Menteng:</p>
<div id="attachment_933" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-933" title="IMG_9682a" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9682a.jpg" alt="Me, Hikaru Nagatake &amp; Rini from WWF Indonesia" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Me, Hikaru Nagatake &amp; Rini from WWF Indonesia</p></div>
<div id="attachment_936" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-936" title="IMG_9757a" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9757a1.jpg" alt="The talented photographer, " width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Dien the MC and the talented photographer,Nurul Zainuri</p></div>
<div id="attachment_937" class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-937" title="IMG_9796a" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/IMG_9796a1.jpg" alt="Smile!" width="550" height="412" /><p class="wp-caption-text">Smile!</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/wondereyes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2009, In Retrospection</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/2009-in-retrospection/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/2009-in-retrospection/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 17:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[Creative]]></category>
		<category><![CDATA[Evaluation]]></category>
		<category><![CDATA[Graphic Design]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Retrospection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[
It was a fine afternoon in January 2010&#8230; clear and breezy. I could not take my eyes away from the horizon in the sea of Rajaampat, Papua. Being away from Jakarta always brings me a good mood to give a quality time to myself (an exception to my toilet affair every morning, which is awesome, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;"><img class="alignnone size-full wp-image-874" title="Misool_006" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/Misool_006.jpg" alt="Misool_006" width="200" height="300" /></span></span></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">It was a fine afternoon in January 2010&#8230; clear and breezy. I could not take my eyes away from the horizon in the sea of Rajaampat, Papua. Being away from Jakarta always brings me a good mood to give a quality time to myself (an exception to my toilet affair every morning, which is awesome, but doesn’t include a million dollar view like what I had).</span></span></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">One thing I did remember: I forgot more things. It&#8217;s funny to see that our hunger of excitements only fuels our source of forgetfulness. I thought I better write down a few things that I considered interesting to remember in 2009, so I can remember to use it when trying to look smart in front of new clients.<span id="more-871"></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">So here I am, sitting at a cafe at Plasa Senayan at 3 pm, compiling those thoughts (and wondering why these people around me don&#8217;t have to go to work&#8230; lucky bastards&#8230;).</span></span></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I have realized that the toughest battle is within myself, with myself. In most of the cases, I lost. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I realized that graphic design was a dying business. Most of the work from idiots have successfully satisfy idiot clients. The only problem is, there are more idiots than ever now. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I wrote more than ever in 2009. They were still terrible writings, but I hope they didn’t fail to make you an inspired reader. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Being more well-known brings lots of benefits. But I don’t think the downside is any less. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I am being blessed with my last exhibition and book, In My Room. It proved me that simple ideas work well in this complicated world. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">The book made me talk in-depth with many of the public figures in Indonesia. You know what interests them the most? Themselves. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Advertising in Indonesia has been walking backwards. Less creative ideas sell more. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Photography is getting very popular. And so is Photoshop. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I realized that in LOVE, I knew nothing. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I lost a lot of things during the year. So much, so many. Maybe I needed to. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I have hurt many good people around me during the year. Some, deeply. I am truly sorry. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I thought I would have been tired with Facebook. Nope. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I was introduced to another amazing world wonder: Twitter. See, simple ideas, again, work. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Canon made its best move in photography with its 5D mark 2. My best value camera ever. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Macintosh stayed cool and unbeatable. If PC people think differently, it’s mostly because they haven’t tried both. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I was surprised to see the development of inkjet printer. Hewlett Packard did a good job. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Creative industry got dirtier every year. Getting hard to win pitches with honesty? Be a lawyer or start a restaurant. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I stopped doing pro-bono work. It’s a stupid concept. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">My company became very slim. Love it. Less headache, less fix cost, more profit, more free time, more traveling. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">Getting out of my comfort (creative) zone saved me from being a cocky asshole. I hope. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I judged a national design competition for the first time. I found it equally as fun as judging photo competitions. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I started to do sport again. Creative people, trust me, it helps. </span></span></span></span></li>
<li><span style="color: #993300;"><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri,Verdana,Helvetica,Arial;"><span style="font-size: 11pt;">I needed less sleep. Some said it’s a sign of getting old.</span></span></span></span></li>
</ol>
<ul></ul>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/2009-in-retrospection/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Wirausaha Muda Mandiri&#8217; by Rhenald Kasali, 2010</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/wirausaha-muda-mandiri-by-rhenald-kasali-2010/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/wirausaha-muda-mandiri-by-rhenald-kasali-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 17:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[GPU]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia Pustaka Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Graphic Design]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Rhenald Kasali]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha Muda Mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[WMM]]></category>
		<category><![CDATA[Young Entrepreneur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[
This book is about true stories of young entrepreneurs in Indonesia: how they started, what inspired them and where they are now. Written by a famous educator, motivator, Prof. Dr. Rhenald Kasali, you can get the copy at any bookstores now.
When a friend of mine called and congratulated me, I was pretty clueless. I didn&#8217;t [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-869" title="WMM" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/WMM.jpg" alt="WMM" width="300" height="400" /></p>
<p>This book is about true stories of young entrepreneurs in Indonesia: how they started, what inspired them and where they are now. Written by a famous educator, motivator, Prof. Dr. Rhenald Kasali, you can get the copy at any bookstores now.<span id="more-862"></span></p>
<p>When a friend of mine called and congratulated me, I was pretty clueless. I didn&#8217;t know that Rhenald included my story (page 126). No complain though. I feel honored.</p>
<p>Some of Rhenald&#8217;s mantra as his conclusions on my entrepreneurship:<br />
- Give the very best of your quality. Never think that people buy your image or brand.<br />
- Limit our products. Quality products are not mass products.<br />
- Be consistent on pricing. Your price shows your quality.<br />
- Be exclusive.<br />
- Give credence. It&#8217;s the symbol of trust.<br />
- Always stay ahead. Your credibility is your challenge.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/wirausaha-muda-mandiri-by-rhenald-kasali-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fals Melulu?</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/fals-melulu/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/fals-melulu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 14:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Critics]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Dunia desain di Indonesia berada dalam kekacauan yang, bila dilantunkan menjadi lagu, menyakitkan. Iya, pernyataan menyebalkan ini sepenuhnya tanggung jawab saya, karena seiring semakin kaya dan ramainya lagu-lagunya tercipta disekeliling saya, nada falsnya tidak kurang juga. Dan (rasanya) tidak banyak juga yang menyadari, apalagi peduli.
Saya tadi duduk di bangku tunggu penumpang di terminal satu bandara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia desain di Indonesia berada dalam kekacauan yang, bila dilantunkan menjadi lagu, menyakitkan. Iya, pernyataan menyebalkan ini sepenuhnya tanggung jawab saya, karena seiring semakin kaya dan ramainya lagu-lagunya tercipta disekeliling saya, nada falsnya tidak kurang juga. Dan (rasanya) tidak banyak juga yang menyadari, apalagi peduli.</p>
<p>Saya tadi duduk di bangku tunggu penumpang di terminal satu bandara Soekarno Hatta, di lorong sebelum masuk ke gate. Bangku rendeng tiga tempat saya duduk berada di depan pintu keluar ruangan merokok, menyisakan jarak 50 cm dari pilar. Terlalu sempit untuk jadi lorong, terlalu lebar untuk tidak dilewati. Jadilah itu lorong &#8216;tidak resmi&#8217; yang membuat jadi terdorong-dorong setiap orang memaksakan lewat. Fals.<span id="more-819"></span></p>
<p>Saya melihat logo sebuah universitas besar di Karawaci, yang menjadi universitas swasta termahal bertaraf internasional, yang jurusan desainnya pesat berkembang. Jarak antar huruf dalam logonya tidak berimbang, tidak ditata. Ternyata bikinan Singapura (syukurlah?). Fals.</p>
<p>Kasus lainnya. Majalah inflight magazine maskapai penerbangan lokal dengan ratusan pesawat barunya. Dalam satu edisi, dengan gampang saya temui lebih dari 10 salah ketik. Fals.</p>
<p>Dalam sebuah pameran foto beberapa rekan fotografer fashion. Foto terbingkai dengan berantakan, penuh gelombang karena gelembung udara. Susah pula dinikmati, karena lampu diatas bingkai terpasang terlalu rendah, memantul dengan suksesnya pas di tengah foto. Fals berat.</p>
<p>Ada sejuta hal serupa begitu gampang kita temui di berbagai pelosok Indonesia. Betapa anehnya, mengingat begitu banyak desain tradisional, bahkan primitif, asli Indonesia begitu terbebas dari nada fals, dan penuh dengan harmonisasi dan kesempurnaan. Tidak perlu saya jelaskan lagi contoh-contohnya.</p>
<p>Mengapa demikian? Karena para &#8216;desainer&#8217; zaman leluhur kita dulu tidak ada yang lahir instan. Bila mereka harus memahat dan mengukir, itu lahir dari ribuan jam memahat dan mengukir, sampai boleh mengklaim dirinya &#8216;pengukir&#8217;. Singkatnya, perfection to excellence adalah kultur yang tergariskan sebelum boleh mengklaim diri.</p>
<p>Eksekusi memang bisa instan, begitu pula olah ide. Akan tetapi, yang namanya kepekaan, intuisi seni dan berbagai hal penting lainnya yang membuat seorang desainer menjadi benar-benar handal tidak akan pernah lahir instan. Itu semua adalah hasil asahan, kecintaan, komitmen serta kepedulian. Kepedulian akan kesempurnaan, yang kian hari semakin langka (karena tidak terlalu dibutuhkan juga?).</p>
<p>Fals terus, lagu tetap melantun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/fals-melulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untitled, 2009</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/untitled-2009/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/untitled-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 03:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Cutting-edge]]></category>
		<category><![CDATA[FGD]]></category>
		<category><![CDATA[FGD Expo]]></category>
		<category><![CDATA[FGD Expo 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Graphic Design]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Printer]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Paperina]]></category>
		<category><![CDATA[Poster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jerryaurum.com/blog/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[
I love making posters!
The most difficult part of the process was sticking all the stickers to, well, a man&#8217;s bare ass. Luckily, it was my own. Unluckily, I prefer to do it myself (to shy to ask for my assistant&#8217;s help. It was much easier to shoot naked models, as I have done a thousand [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-665" title="JA-FGDPoster09-blog" src="http://www.jerryaurum.com/blog/wp-content/uploads/2009/07/JA-FGDPoster09-blog.jpg" alt="JA-FGDPoster09-blog" width="400" height="219" /></p>
<p>I love making posters!<span id="more-664"></span></p>
<p>The most difficult part of the process was sticking all the stickers to, well, a man&#8217;s bare ass. Luckily, it was my own. Unluckily, I prefer to do it myself (to shy to ask for my assistant&#8217;s help. It was much easier to shoot naked models, as I have done a thousand times, I realized). It was such a pain in the ass, and some other parts of my body, trying to align the stickers in front of a mirror. You might like the poster, but you won&#8217;t like the behind-the-scene fact: a half naked photographer trying to shoot his own ass, wearing only t-shirt and socks, and could barely walk. Don&#8217;t imagine it.</p>
<p><em>PS Thanks to Indonesia Printer and Paperina for making this FGD &#8216;09 joint promo. May other designers are not inspired to show their body parts too.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/untitled-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Days With JK-Wiranto, The Presidential Candidate, 2009</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/days-with-jk-wiranto-the-presidential-candidate-2009/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/days-with-jk-wiranto-the-presidential-candidate-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 14:09:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[JK-Wiranto]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Lebih Baik]]></category>
		<category><![CDATA[Lebih Cepat]]></category>
		<category><![CDATA[Presidential Campaign]]></category>
		<category><![CDATA[Vote 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Vote Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wiranto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerryaurum.wordpress.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[I am not a fan of politics, and I don&#8217;t think I will ever be. But my love to shoot human interests has been there since the first time I know how to press the shutter button. Shooting Jusuf Kalla (JK), a.k.a the vice president, a.k.a the presidential candidate, was nothing less but a journey [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_549" class="wp-caption alignleft" style="width: 129px"><img title="Mataram_103" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/mataram_103.jpg" alt="41,000 feet in the air" width="119" height="158" /><p class="wp-caption-text">41,000 feet in the air</p></div>
<p>I am not a fan of politics, and I don&#8217;t think I will ever be. But my love to shoot human interests has been there since the first time I know how to press the shutter button. Shooting Jusuf Kalla (JK), a.k.a the vice president, a.k.a the presidential candidate, was nothing less but a journey to see the other side of someone who played a big role in shaping our country.<span id="more-604"></span></p>
<p>I remember one morning I had to shoot JK at his home after a tiring full day campaign in Medan. The whole campaign team was there waiting for him. The time was 11 a.m. Then there he was. Coming in in a worn-out polo shirt on leisure trousers and his cheap pen with a small notebook in his pocket. That was the way he was, he is and he will always be, I think.</p>
<p>I saw a leader whose humanity was dominant. A decision maker who was never tired. A vice president who always listened and acted accordingly. A candidate who never forgot to smile. Someone who I could honestly admire. Such a memorable journey for a photographer.</p>
<p>You know what I love in making an essay photo? I triggers a different side of my brain which called: Looking-Thinking-Shooting at The Same Time. I usually start my essay shooting with quite light research, nothing too serious. I find thinking and planning too much before the shooting would only give me more nausea and sweaty palm. But doing it with an easy going attitude usually makes it much more interesting. So I don&#8217;t actually searching and trying to find an angle of story, but I tend to loose myself and let wherever the flow take me. I just keep shooting and pay as much attention to my surrounding while waiting for the best split-second moment I have to capture.</p>
<p>These pictures are my personal selection. The commercial versions that were displayed during the campaign were mostly in color and/or cropped to fit the layouts.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-550" title="JK_01" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_01.jpg" alt="JK_01" width="300" height="300" /> <img class="alignnone size-full wp-image-551" title="JK_03" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_03.jpg" alt="JK_03" width="400" height="267" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-552" title="JK_08" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_08.jpg" alt="JK_08" width="267" height="400" /> <img class="alignnone size-full wp-image-553" title="JK_11" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_11.jpg" alt="JK_11" width="400" height="267" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-554" title="JK_14" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_14.jpg" alt="JK_14" width="400" height="267" /> <img class="alignnone size-full wp-image-555" title="JK_17" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_17.jpg" alt="JK_17" width="400" height="267" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-556" title="JK_19" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/jk_19.jpg" alt="JK_19" width="400" height="267" /> <img class="alignnone size-full wp-image-557" title="Wiranto_1" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/wiranto_1.jpg" alt="Wiranto_1" width="400" height="267" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-558" title="Wiranto_3" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/wiranto_3.jpg" alt="Wiranto_3" width="267" height="400" /> <img class="alignnone size-full wp-image-559" title="Wiranto_4" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/wiranto_4.jpg" alt="Wiranto_4" width="400" height="267" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-560" title="Wiranto_8" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/07/wiranto_8.jpg" alt="Wiranto_8" width="400" height="267" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/days-with-jk-wiranto-the-presidential-candidate-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanjung Karang, Donggala, Palu 2009</title>
		<link>http://www.jerryaurum.com/blog/tanjung-karang-donggala-palu-2009/</link>
		<comments>http://www.jerryaurum.com/blog/tanjung-karang-donggala-palu-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 22:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jerry Aurum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>
		<category><![CDATA[Adrijani Lim]]></category>
		<category><![CDATA[Ayodhya Glenardi]]></category>
		<category><![CDATA[Divers]]></category>
		<category><![CDATA[Diving]]></category>
		<category><![CDATA[Donggala]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jeffrey Wirianta]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Aurum]]></category>
		<category><![CDATA[Joseph Liemonta]]></category>
		<category><![CDATA[Meta Rostiawati]]></category>
		<category><![CDATA[PADI]]></category>
		<category><![CDATA[Palu]]></category>
		<category><![CDATA[Prince John]]></category>
		<category><![CDATA[Regina Wirianta]]></category>
		<category><![CDATA[Rina Tambunan]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerryaurum.wordpress.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[
Yaaay, diving again! Tanjung Karang is a village in Donggala County, approximately one hour from Palu, the capital of Central Sulawesi. It is not as famous as many other diving destinations in Indonesia such as Rajaampat, Komodo or Bali. But I believe there are many, many beautiful spots that are yet to be discovered (probably [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-475 alignnone" title="AlexPoint-004" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/alexpoint-004.jpg" alt="AlexPoint-004" width="400" height="300" /></p>
<p>Yaaay, diving again! Tanjung Karang is a village in Donggala County, approximately one hour from Palu, the capital of Central Sulawesi. It is not as famous as many other diving destinations in Indonesia such as Rajaampat, Komodo or Bali. But I believe there are many, many beautiful spots that are yet to be discovered (probably it&#8217;s better be this way. Indonesia is renowned to spoil its originally beautiful and pristine natural sites).<span id="more-564"></span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-497" title="TjKarangDonggala-251" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/tjkarangdonggala-2511.jpg" alt="TjKarangDonggala-251" width="165" height="124" />So, we flew to Palu via Balikpapan with Sriwijaya Air. If you haven&#8217;t heard about the airline, have no worries. We survived. The dive operator company called Prince John (www.princejohndiveresort) arranged three cars with drivers to pick us up at the airport. The bosses, Alex and Gaby (both Germans), which we later met at the resort, ran the dive center since 12 years ago.</p>
<p>I found Palu very clean and, well, empty. But it was as expected. That&#8217;s what you will find going to non-touristic destinations in Indonesia.</p>
<p>The humble resort where we stayed wasn&#8217;t so bad though. Prince John resort was right next to its beautiful beach. The trip was affordable too. We spent around Rp 6.7 million for 5 nights and air tickets. It&#8217;s PADI-certified dive centre also had good guides and the staff were very nice! They liked to laugh and were never out of jokes. So were we! There were 8 of us: Rina Tambunan, Jeffrey and Regina Wirianta, Meta Rostiawati, Adrijani Lim, Joseph Liemonta, <span>Ayodhya Glenardi (Glen)</span> and myself. Many thanks to Rina and Adri who arranged most of the things for us.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-488" title="TjKarangDonggala-241" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/tjkarangdonggala-241.jpg" alt="TjKarangDonggala-241" width="200" height="150" />You know what is the best thing about a diving trip? Meal times! The food served by the resort was reasonable, but nothing really tickled my refined taste buds <img src='http://www.jerryaurum.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> . I always feel tremendously hungry after diving, and always find the food good enough even though we maybe on a rocky boat and the others are throwing up.</p>
<p>I will tell you my overall impression about our Tanjung Karang trip. The diving was ok. Nothing spectacular, but I still recommend it. The resort was ok too, but expect nothing fancy, and be prepared with your mosquito repellent. The bugs and mosquitoes were quite a challenge for me. I loved the local people. They were fun! So I suggest you go there with your best buddies, as you can&#8217;t do anything after diving but to have beers, share jokes and eat snacks (which you have to bring from home).</p>
<p>I will let the photos continue the story.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-498" style="margin-right:5px;" title="GreenWall-009" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/greenwall-0091.jpg" alt="GreenWall-009" width="300" height="400" /> <img class="alignnone size-full wp-image-477" title="AnchorWreck-021" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/anchorwreck-021.jpg" alt="AnchorWreck-021" width="300" height="400" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-479" style="margin-right:5px;" title="PrinceJohnHouseReef-031" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/princejohnhousereef-031.jpg" alt="PrinceJohnHouseReef-031" width="300" height="400" /><img class="alignnone size-full wp-image-480" title="AlexPoint-013" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/alexpoint-013.jpg" alt="AlexPoint-013" width="300" height="400" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-481" title="EnuGorgonian-005" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/enugorgonian-005.jpg" alt="EnuGorgonian-005" width="400" height="300" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-482" title="PrinceJohnHouseReef-078" src="http://jerryaurum.files.wordpress.com/2009/06/princejohnhousereef-078.jpg" alt="PrinceJohnHouseReef-078" width="400" height="300" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jerryaurum.com/blog/tanjung-karang-donggala-palu-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->