
Beach in Alkmaar, 1998
Saya lagi asyik muter-muter di Facebook ketika chat window saya loncat muncul. Seorang penggemar foto dari Semarang bertanya, “Kenapa sih kita selalu dinilai dari kamera kita?” Saya bilang, “Oya? Masak sih? Salah bergaul kali.” Iya, mungkin aja hobinya teman satu ini nongkrong di toko kamera, so pastilah orang-orang lebih suka nanyain soal kameranya. Atau, mungkin juga kalo hunting foto tas kameranya gede banget, jadilah suka ditanya-tanyain. Atau, jangan-jangan kameranya invisible, jadilah ditanyain juga, kameranya apa, wong temen-temennya pada bawa kamera dia bawanya Blackberry.
Anyway, tetap saja memang itu jadi pertanyaan kuno. Kameranya apa? Banyak yang beranggapan, kamera menentukan reputasi. Saya sih setuju-setuju saja. Paling enggak, reputasi pembelianlah. Dan memang mungkin sejuta rasanya kalau lagi menenteng Nikon D3 atau Canon 1Ds mk3 dengan lensa 80 mm f/1.8 L series. Atau dengan cool-nya membidik model dibalik Hasselblad H3 seharga Nissan Teana. Berhak koq, karena memang itu prestasi. Bisa jadi si pemakai adalah orang yang sukses memimpin perusahaan batubaranya sehingga enggak ngedip waktu memborong setengah isi toko JPC Kemang, ataupun sukses merayu dan meyakinkan bapaknya bahwa kamera semi-profesional enggak cukup bagus untuk mulai belajar bagaimana caranya memfokus. Sah dan meyakinkan sebagai sebuah prestasi.
Saya ingat hari-hari dimana saya diam-diam tetap memendam rasa iri pada kamera-kamera idaman sewaktu saya masih di jalur amatir. Wajarlah, boys with toys, rumput tetangga selalu lebih hijau. Saya juga sering menanyakan mereka memakai kamera apa, karena 99,9% pasti lebih bagus dari kamera pas-pasan saya. Senang aja, karena yang ditanya pasti semangat 45 menerangkan A-Z fitur kameranya, dan dengan senang hati membiarkan saya menimang-nimang sambil menempelkan muka berminyak saya disitu, jepret sana jepret sini (sering dilap kembali oleh yang punya dengan bajunya). Sejujurnya, banyak untungnya berteman dengan sosok beginian. Kesenangan mereka akan kamera akan terus menerus membuat mereka up-to-date dengan photo gear terbaru. Yang lama dikemanain dong? Dijuallah kepada orang-orang seperti saya, yang selalu merindukan kamera bekas kondisi 99% harga miring. Seneng deh temenan (foto diatas, Beach in Alkmaar, saya foto tahun 1998 di Belanda, dengan Nikon F90x bekas, kondisi 99% harga miring, dibeli dari teman saya yang baik hati).
Hingga sekarang, photo gear saya selalu dibawah ekspektasi (bukan ekspektasi saya, tapi ekspektasi klien yang hobi koleksi kamera). Lighting set saya sudah berumur 9 tahun, Hensel, dan masih setia menemani. Kamera saya Canon 5D mk2, yang banyak dipakai para amatir. Kalau tas kamera saya memang punya banyak, karena enggak semahal beli kamera. Untungnya, entah kenapa, makin hari makin jarang ada yang menanyakan saya pakai kamera apa (karena jawabannya tidak akan nendang anyway). Nah, tapi itu dia, kenapa semakin tidak ditanyakan?
Perhatikan tidak, banyak yang kameranya bagus, fotonya jelek-jelek. Disisi lain, banyak yang fotonya bagus-bagus, kameranya juga bagus. Lha? Tentu saja. Karena orang-orang yang sudah jago motret, biasanya memang sudah memutuskan untuk serius. Keseriusan mengarah pada totalitas. Semakin jago jadi semakin serius jadi semakin total. Semakin upgraded-lah kameranya. Lagi-lagi, wajar.
Mungkin yang harus dipikir lagi, kenapa kita merasa risih pada saat ditanyakan soal kamera kita, yang kebetulan, memang cukup pas-pasan? Kalaulah ternyata kita adalah juara lomba Salonfoto 10 kali berturut-turut, dan kameranya pas-pasan, bukannya bangga ternyata selalu menang dengan menggunakan barang bapuk (cieee, ngerendahin diri, ninggiin mutu. Kamera jelek aja menang, apalagi kamera bagus). Mungkin masalahnya memang di pencapaian fotografinya kita sendiri. Kalaulah memang sudah nyaman dan percaya diri, mau ditanya soal kamera, sah-sah saja, karena mungkin tidak terlalu penting lagi. Jadi siapa yang sebenarnya perlu dihakimi soal nanya-nanya kamera ini, yang ditanya atau si penanya?










Kalo sekelas Jerry, ngomong begini sih percaya diri … tapi kalo yang masih pemula, (mungkin minder dengan hasil fotonya) ya alatnya yang bikin percaya diri.
thanks bang….
inspirational morale story nih… bisa di terapkan ke hal lain..
anda bijak juga yah.. hehehe..
Kamera saya juga pas pas an … hi hi … emang nggak ada duitnya mo beli yang bagus ..
Yang penting masih bisa dipake ….
Waw… Sangat memukau dan bermoral. Saya yang punya kamera paling bagus jadi malu
…
..
Soalnya sering narcis waktu di tanya pake kamera apa
Senang belajar fotografi.
Saya bukan fotografer. Tapi saya senang jadi obyek foto.
Saya tidak pernah mau repot-repot tanya fotografernya pakai kamera bagus atau kamera ecek-ecek. Tapi kalau sekali saya lihat hasil fotonya ciamik, saya akan merayunya untuk motret saya lagi.
Kejadian ini persis dialami oleh saya sampai sekarang..setiap hunting foto ketemu temen2 sesama penggemar selalu yg di tanyakan senjatanya (kamera)…karena saya sampai sekarang masih menggunakan analog…( karena terlalu mahal bagi saya DSLR) bukannya GATEK ,,,,,walhasil kalau hunting selalu sendiri ;( minder dengan tmn2 DSLR )…
tengkiu bro Jerry atas pencerahannya….
mantabz ceritanya…:-)
tapi mereka biasanya lsg gede kepala…
saya suka sebel sama temen2 yg baru hobi fotografi tp krn basic keluarga tajir mrk langsung beli kamera+lensa yg aduhai…hak mrk jg sih
saya sih hanya penikmat foto,kemana-mana cuman ada kamera poket ato gak kamera hp, saya memotret dgn hati…(hmm puitis amat)
–Mengenal dan mengoptimalkan kemampuan peralatan fotografi yang kita miliki jauh lebih penting ketimbang selalu memburu peralatan yang lebih canggih dan relatif mahal–man behind the camera
ngga tau kenapa, saya berpegang teguh pada prinsip “It’s not about the gun, but it’s all about the man behind the gun”
saya malah lebih bangga jika dengan kamera bapuk tapi bisa menghasilkan foto yang membuat banyak orang berdecak kagum melihatnya
it’s a very inspiring story…aku fotografer freelance wedding dari bandung…dulu motret hanya hobi waktu jaman camera analog, camera masih minjem punya ayah saya yang juga hobi fotografi, masuk jaman camera digital, harganya lumayan muahal2, mana keliatannya koq kaya rumit jaman itu, eh kaga kebeli jg…tp setelah lama lulus kuliah, hobi itu jadi sebuah pekerjaan yang kudu ditekunin. mulailah beli camera digital SLR seri yang yang murah aja tp ok, yah mulai dari bawah lagi. sambil belajar lagi, motret kg dibayar, cari pengalaman sampai akhirnya gear&income bisa naek tingkat. But These what i’ve learn that i wanted to share: aku bisa cari semaksimal mungkin kemampuanku&kemampuan camera dengan camera yang ada, nanti saatnya kebutuhan akan kualitas pasti meningkat seiring dengan bertambahnya jam terbang dan pengalaman, baru tau arah upgrade gearnya mo kemana. jadi kaga buang2 duit asal beli camera+gear, karena prestise si camera atau kemakan iklan…ga nyesel deh mulai dari bawah juga, dan kaga usah gengsi deh, gengsi mah kaga akan pernah ada abisnya….Peace! =D
Kamera boleh jelek, tapi lensa harus bagus, walaupun harga ga mahal. Wah jerry, saya kenalin ama temen sony dehhh… murah bagus hehehe.. saya pemakai canon akhirnya “teracuni” juga.
“Yang lama dikemanain dong? Dijuallah kepada orang-orang seperti saya, yang selalu merindukan kamera bekas kondisi 99% harga miring. Seneng deh temenan (foto diatas, Beach in Alkmaar, saya foto tahun 1998 di Belanda, dengan Nikon F90x bekas, kondisi 99% harga miring, dibeli dari teman saya yang baik hati)”. <—— Kalo temen yang jual kamera ini saya tau bener hehehehehe
Haha, kenangan lama Yo!
…”Mungkin masalahnya memang di pencapaian fotografinya kita sendiri”…
agree man..
sayang aku lom punya kamera
sekarang ini masih pake kamera hp itu pun parahbanget kualitasnya
huhuhu..makin cinta sama eos 350d saya! thanks sharingnya…
Jadi teringat kejadian tahun lalu ketika saya photo hunting sambil naik sepeda, saya hanya membawa sebuah pocket camera, lalu hasil foto saya upload di facebook.
Teman saya dalam grup sepeda terkaget-kaget melihat hasil karya saya, mereka berpendapat hasil pasti bagus karena saya memiliki kamera dan lensa professional, lalu pendapat mereka saya bantah, saya hanya memotret dengan sebuah pocket camera yang memiliki manual fiture.
Sungguh kalimat yang memotivasi saya…
Thanks Mas Jerry
Seperti kata pepatah:
“The Man behing the Gun”
mmmmm.. begitulah realita di Indonesia.. hahhahahahaa.. selalu heran..
beberapa bulan lalu ada temen bokap pacar saya.. memamer2kan fotonya yg “menurutnya” bagus dan gearnya yg bagus..dan mulailah menceramahi cara2 memfoto yg baik.. dan itulah ciri2 orang yg tong kosong nyaring bunyinya.. tidak low profile..dan ternyata benar..
I personally love this photo! I wish I could snap a shot of something like this in the future. I need to get back and learn again.
Anyway, just to share my opinion. A lot of people who own cameras here encounter the same question. I was personally asked one a couple of years ago when I first had Sly, my Canon 350D. Apparently, people get a kick of knowing the type of photography gear you have. It sometimes become a source of pride when people know that they’re ahead by a notch or they feel down because they don’t have a specific type of photography gear.
But for me, no matter what type of camera you have, if you have the eye and talent for photography and you are passionate about it, you will be able to snap the best photos even if you just have a point-and-shoot camera.
Artikel ini sangat menginspirasi bro….
bole ijin share di FB saya??
tulisannya bagus om jerry…
sering baca blog ini
tapi jarang komen.
salam kenal…
menarik, soalnya ada temen yang gak berani pasang harga mahal, jadi dia selalu pasang harga dibawah rata – rata.
Pas ditanya kenapa, dia bilang dia gak berani, soalnya kameranya ecek ecek (350D). Dia mau beli 30D baru masang harga mahal…
Thanks banget utk tulisannya yg buat sy semangat lg. soale suka sebel dg org yg ngelirik2 gear saya.
Gw setuju banget ama tulisannya. Totalitas kuncinya, bukan gearnya.
sudah kenyang makan asam garam fotografi nih si bapak…sangat bijak
widiihh..pertanyaanku yg dulu ditulis di blog…haha…makasihhh om jerry atas jawabannya…sukses sll….jgn kbykn masuk infotemen yaaak???hahaha
Setuju….
Semua itu perlu proses ya om Jerry (ikutan manggil om ya). Teknik, masalah komposisi dan sebagainya memang butuh pengalaman dan jam terbang.Tapi tetap, hal terpenting adalah ‘Rasa’ saat kita memencet tombol kamera tersebut….
dan Gear akan sangat membantu membuat semuanya menjadi lebih sempurna
Terima kasih sudah berbagi om Jerry
artikelnya inspiratif banget bang……walaupun saya sih cuex bebex soal gear, sampe saat ini masih pake lensa jadul bikinan rusia plus body analog, dan skali kali pake juga digital pinjeman
wah…ahirnya aku dapat pencerahan yang menurutku bisa membangkitkan motivasiku.
Emang benar tuh yang diomongin oleh ko Jerry,aku juga sempat minder kalo lagi ikutan acara lomba foto on the spot,di mana senjata temen2 panjang2 dan wah.Sementara senjataku,idih…..malu2in(kalo menurut aku sih).Tapi gak dinyana dan di kira meski senjataku malu2in,eh ternyata bisa mengalahkan mereka.Jadi meski senjata merkacanggih dan menciutkan nyali,belum tentu mereka dapat mneghasilkan foto yang aduhai,jadi prinsipku kini Enjoy aja lagee…
nihhhhh mantap artikelnya……. tp aku sedikit nih punya pendapat kamera yg bagus yaitu yg bisa hasilin duit, fotonya dipakai orang laen ato perusahaan dan duitnya buat biaya hidup…. apapun merek kameranya dan berapapun harganya…….
“Intinya karya kita bisa dihargai dan dinikmati orang lain”
Waduuh.. kok sepertinya saya seperti yg diomongin sm Jerry yaa… Saya masih sangat baru dalam dunia photography mungkin baru 1.5 tahun.. awalnya saya mulai dengan kamera Canon 1000 D .. mmg kurang PD klo lagi ikutan acara2 hunting .. apalagi melihat yang lain kameranya keren2 dgn lensa2 yang canggih2 menurut saya.. tapi setelah melihat hasil foto saya dan mendengarkan komen dari teman serta keluarga.. ternyata kamera low end saya bisa menghasilkan foto yang tidak kalah indah dan menarik dengan jepretan kamera2 canggih teman2 saya.. sejak itu saya jd semangat dan PD bgt dengan kamera saya karena menurut saya keindahan sebuah hasil karya tidak dilihat hanya dari gear apa yang kita gunakan. Tapi bagaimana kita melihat object yang biasa2 itu menjadi indah di mata seorang photographer.. meskipun saya akhirnya tetep kebawa arus juga sich untk punya kamera yang canggih.. hahahaha.. saat ini saya pakai canon 50D.. terima kasih untuk sharing knowledege nya.. saya senang lihat hasil foto2 nya.. cantiiik2… keep going and good luck!
Pertanyaan yang selalu ditanyakan… tetap kembali ke esensinya “Man Behind the Camera”
Teman-teman saya fotografer profesional di Bali yang udah punya nama dan sering menang lomba pun hanya memakai kamera sekelas D40 dan D90…
^_^